saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan
Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.
Jumat, 20 Maret 2009
Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama
Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi.
Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang disimpan. Dan kerena itulah, percintaan selalu memiliki gairah penaklukan, ketika belum ada yang dikuasakan. Tampaknya, pernikahan harus juga dibayangkan seperti percintaan, sebelum ijab, ketika aku dan engkau tak harus menjadi kita. Hanya dengan begitu, pernikahan, rumah tangga, tak lagi diisi rintihan.
Rabu, 18 Maret 2009
kusyuk untuk beribadah

Hampir semua umat beragama mencari atau berlomba-lomba mencari kekhusyuan dalam ibadahnya, bahkan bila mungkin juga khusyu dalam kehidupannya, namun apa dan dimana serta bagaimanakah khusyu itu sebenarnya, banyak orang berusaha menggenjot konsentrasi dalam ibadahnya, ada juga yang berusaha menyatu dengan alam agar mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut, namun kenyataannya apa yang terjadi, mengapa sang khusyu tiada kunjung tiba, sehingga orang akhirnya ada yang merasa frustasi karena tidak pernah berhasil mencapainya, tentu saja akibat dari rasa frustasi ini akan sulit diperkirakan akibatnya.Benarkah hingga sedemikian sulitnya untuk mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut?, ataukah disebabkan oleh ketidak tahuan bahwa sebenarnya khusyu adalah hadiah, sehingga tidak akan didapatkan dengan cara memaksakan, melainkan harus ditunggu kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah diri serta tertib.
Jika khusyu adalah hadiah, mengapa ada sebagian orang yang menggenjot konsentrasi dengan cara-cara shalat panjang ataupun dengan berdzikir panjang ternyata dapat juga mencapai khusyu, walaupun dengan pengorbanan yang besar baik itu dari segi waktu maupun tenaga, sekiranya untuk mendapatkan khusyu haruslah sedemikian besar pengorbanannya, tentu akan sulitlah bagi orang-orang biasa yang mempunyai kesibukan keseharian yang cukup banyak, sedangkan khusyu itu sendiri adalah hak bagi semua orang.
Bagi mereka yang berkeluangan waktu dan tenaga, mereka dapat melakukan pengkonsentrasian dengan melakukan shalat taupun dzikir panjang, sehingga dengan terkurasnya tenaga hingga habis maka tanpa terasa mereka telah bersih diri, sabar serta berserah diri, sehingga khusyu bisa didapatkan walaupun mereka hanya mendapatkan khusyu ibadah dan bukan khusyu kehidupan.
Sedangkan mereka yang berusaha menyatu dengan alam, mereka merasakan mendapatkan ketenangan jiwa yang mereka anggap kekhusyuan walaupun sebenarnya adalah bukan, semua itu dikarenakan menyatu dengan alam adalah menyatukan jiwa dengan bumi, ataupun sejauh-jauhnya menyatukan jiwa dengan alam semesta, yang kedua-duanya masih termasuk hitungan dunia, sedangkan khusyu kaitannya adalah dengan akhirat, kesalahan-kesalahan tersebut memang umum terjadi, tentu saja penyebabnya adalah kesulitan dalam membedakan yang mana mata bathin dengan yang mana mata terbuka hijab ghaib, mata terbuka hijab ghaib adalah mata yang dapat melihat mahluk ghaib, tentu saja yang terlihat bukanlah yang Maha Ghaib, ataupun akhirat yang jauh diluar alam semesta, sedangkan mata bathin tentu saja tidak melihat melalui kedua matanya itu, karena pada saat mata bathin terbuka, semua panca indera tetap berfungsi seperti biasanya dan tidaklah seperti orang yang kehilangan kesadarannya.
Sekarang pertanyaannya adalah, jadi dapatkah dan atau bagaimanakah kita sebagai orang-orang biasa saja dapat mencapai apa yang dinamakan khusyu beribadah, bahkan khusyu dalam kehidupan, jawabannya tentu saja dapat, sedangkan masalah bagaimananya, kita harus menelaah lebih dahulu dasar-dasar pendukung pemberian hadiah khusyu itu sendiri, pada dasarnya islam adalah pola hidup yang harus di dukung oleh kesadaran yang setinggi-tingginya, oleh karena itulah maka umat islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sebagai pembentukan pola beribadah, yang harus dilakukan dengan kesadaran sepenuhnya, sehingga sangat tidak disarankan kita shalat sambil menutup mata, bahkan pergerakannya pun haruslah dilakukan dengan setertib-tertibnya agar lisan maupun pergerakan shalat itu senantiasa tetap terjaga niat, arti serta tujuannya, tidak menjadi susut dimakan lalai karena sudah terbiasa atau begitu rutinnya, karena segala sesuatu perbuatan manusia itu, yang pertama-tama di lihat adalah niatnya, seperti yang sudah umum kita lihat dalam keseharian, bagaimana salam yang begitu sering di ucapkan menjadi berubah fungsi dan artinya menjadi say halo saja, padahal saling memberi salam itu sebenarnya adalah saling mendo'a kan, sehingga niat bersalam itu niat mendo'akan orang, tujuannya adalah agar orang yang dido'akan tersebut selamat dunia akherat, mendapat rahmat serta berkah dari Allah, hukumnya bagi orang yang mendo'akan akan mendapat yang sama, tanpa mengurangi sedikitpun dari orang yang dido'akannya, adapun dalam kehidupan keseharian kita di ajarkan untuk membaca Basmallah setiap kali hendak melakukan sesuatu, serta do'a-do'a harian yang dapat menjadi pagar kehidupan kita, asalkan semuanya itu dilakukan dengan selalu menyadari sepenuhnya akan niat, maksud serta tujuan setiap segala sesuatu yang kita lakukan.
Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat usahakanlah senantiasa melaksanakannya penuh dengan kesadaran serta ketertiban, tertib dalam setiap gerakan serta lisan, tidak kehilangan niat, maksud, tujuan serta melakukannya hanya karena Allah, demikian pula dalam melaksanakan kehidupan keseharian kita, lakukanlah semua karena Allah serta jelas niat, maksud, tujuannya, jadikanlah segala sesuatu dalam kehidupan kita menjadikan kita mengingat Allah, mengejar pahala karena di suruh Allah melalui rosulnya, menghindari dosa karena dilarang Allah melalui rosulnya, berdo'a meminta kepada Allah yang maha kaya serta maha pengasih lagi penyayang kata rosulnya, Basmallah menempatkan Allah menemani serta mengawasi kita begitulah yang disampaikan rosul Allah tentang keseharian, ingatlah bahwa mengingat Allah dan rosulnya akan senantiasa memperkuat Syahadat kita, sedangkan pola hidup islami akan membuat kita otomatis berdzikir mengingat Allah pada saat berdiri, duduk dan tidur.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dengan melakukan ibadah yang penuh dengan kesadaran dan ketertiban, ditambah hidup dengan pola islami, tawadhu, sabar serta pandai bersyukur dan senantiasa berprasangka baik pada Allah, istiqomah dalam menjalankan semua itu, InsyaAllah hadiah khusyu dalam beribadah maupun khusyu dalam keseharian yang didambakan akan kita didapatkan, aamiin.
Ciri-ciri khusyu, bila kita mendapatkannya adalah terbukanya mata bathin kita, yang dapat dirasakan sebagai rasa haru yang sangat, apabila kita sedang mengingat Allah, akhirat, surga, Rasulullah, dosa-dosa yang telah lalu serta lain-lain hal yang berkaitan dengan ruhani kita, rasa haru tersebut membuat kita merasa hati tergores rindu, menetes airmata, banjir airmata bahkan bisa sampai menangis tersedu-sedu.
Sebagai catatan tambahan, dalam keseharian kita di jalanan baik dalam berkendaraan maupun berjalan kaki, seringkali tanpa disadari kita menghancurkan pola hidup islami kita dengan menghinakan diri menjadi preman bahkan menjadi perampok, yang merampas atau merampok hak orang lain dengan memotong, memepet, mengambil jalan orang lain, menghalangi, menyebrang dengan berlambat-lambat, saling memaki atau mengumpat serta lain-lain perangai tidak terpuji yang kita lakukan, perlu kita sadari bahwa semua orang ingin cepat sampai ke tujuan dengan tenang, tentram dan aman di jalan, menjalin dan menjaga silaturahmi sangatlah di sarankan bagi orang islam.
Selasa, 17 Maret 2009
Hati / Nurani

Seorang penjahat yang telah membunuh banyak orang tertangkap dan dibawa ke hadapan seorang hakim yang jujur dan dikenal memiliki integritas yang tinggi. Setelah mempelajari kasusnya hakim ini pun mengambil keputusan yang tegas: menghukum mati si penjahat. Ini menimbulkan kegembiraan masyarakat. Hakim ini pun menjadi buah bibir dan pembicaraan di mana-mana.
Namun, selang beberapa waktu kemudian terungkaplah sebuah fakta baru. Ternyata si hakim telah mengenal si penjahat sejak 10 tahun yang lalu dan mereka berdua terlibat cinta segitiga. Cinta segitiga ini dimenangkan oleh si penjahat. Dialah yang menikahi wanita pujaan si hakim. Inilah yang membuat si hakim tetap ”hidup sendiri” hingga sekarang.
Apa yang ada dalam pikiran Anda membaca cerita di atas? Menurut Anda, apa yang membuat hakim itu menjatuhkan hukuman mati? Sebuah pertimbangan hati nuranikah? Atau semata-mata pemenuhan sebuah kepentingan?
Pertanyaan seperti inilah yang perlu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing setiap saat. Apalagi dalam situasi pemilu seperti sekarang di mana setiap kandidat menyerukan masyarakat agar mengikuti suara hati nuraninya. Tapi, masalahnya kenapa suara hati nurani itu bisa berbeda-beda? Orang yang mendukung seorang koruptor maupun pelanggar HAM juga berdalih mengikuti hati nurani. Bahkan, kata-kata ”mengikuti hati nurani” kini telah menjadi merek dagang yang bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan masing-masing
Padahal, suara hati nurani itu adalah satu. Hati nurani bersifat universal melintasi batas suku, ras, agama, dan golongan. Ia tidak pernah mengacu pada seseorang. Tapi, pada sejumlah karakter seperti kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan integritas. Hati nurani adalah kemampuan terdalam yang dimiliki setiap orang untuk menemukan kebenaran. Hati nurani juga adalah samudera terdalam yang melintasi kendala ruang dan waktu. Di dalam samudera hati nurani, kita bukan lagi makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Di sinilah tempat kita berkomunikasi tanpa suara, tanpa sepatah kata. Kita berbicara dalam keheningan tetapi semuanya dapat dimengerti dengan mudah. Tak ada salah paham, tak ada perselisihan, tak ada perdebatan. Segalanya sederhana dan indah. Percakapan terjadi melampaui batas kata-kata. Bukankah sesuatu yang indah itu tak tak dapat dilukiskan dengan kata-kata?
Hati nurani bukanlah segumpal daging yang berada di rongga dada kita. Ia tak dapat digambarkan karena memang bersifat spiritual. Ia berada jauh di bawah kesadaran kita. Kita tak tahu dimana persisnya ia berada. Kita hanya tahu ”pintu” yang bisa digunakan untuk menuju kesana. Pintu tersebut berada dalam otak kita. Inilah yang disebut Danar Zohar dan Ian Marshal dengan titik Tuhan (God Spot) yang terdapat di bagian lobus temporal di otak kita.
Penelitian Zohar dan Marshal menunjukkan bahwa bagian ini akan bercahaya begitu kita melakukan aktivitas yang bersifat spiritual. Inilah yang disebut sebagai spiritual quotient (SQ). Pada saat kita beribadah, ataupun melakukan meditasi, sebenarnya kita tengah masuk ke dalam samudera hati nurani ini. Kita menyatukan hati nurani kita bersama hati nurani semua manusia yang ada di jagat raya. Kita memasuki samudera diri kita yang sejati. Pada saat beribadah (bila dilakukan secara khusus) kita sebenarnya sedang melakukan mi’raj. Ini karena kita melepaskan semua kepentingan kita di bumi menuju samudera yang jauh tempat berkumpulnya semua nurani dengan Diri Sejati kita.
Walaupun merupakan potensi yang dimiliki semua orang, tak semua orang mampu menemukan hati nurani karena terhalang oleh kepentingan. Bahkan, kalau tidak berhati-hati, bisa-bisa kita menganggap bahwa kepentingan itulah hati nurani kita. Dunia politik adalah dunia kepentingan. Anda tentu pernah mendengar adagium berikut: ”Tak ada sahabat sejati, tak ada musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.” Karena itu, demi kepentingan kita bisa mengatakan yang salah itu benar, yang benar itu salah, menutupi fakta, memanipulasi hasil survei, dan sebagainya.
Kepentingan bisa menjadi begitu besar bagi mereka yang berorientasi jangka pendek. Orang-orang seperti ini memandang dunia sebagai satu-satunya tempat memperoleh kenikmatan. Mereka bisa saja bergelar kyai, atau ahli agama. Padahal, mereka sesungguhnya tidak yakin pada kenikmatan yang bisa dicapai secara jangka panjang di alam yang abadi nanti. Karena itu, mereka tidak mau melewatkan kenikmatan jangka pendek. Kalau Daniel Goleman mengatakan bahwa kemampuan menunda kenikmatan adalah ciri orang ber-EQ tinggi, saya ingin mengatakan bahwa hal tersebut juga merupakan ciri orang yang ber-SQ tinggi.
Dengan berfungsinya hati nurani tidaklah berarti bahwa kita tidak memiliki kepentingan sama sekali. Kita tetap memiliki kepentingan. Bedanya, kepentingan itu kini jauh mengecil. Jauh lebih kecil dari diri kita. Bahkan jauh lebih kecil dari hidup itu sendiri.
Rabu, 11 Maret 2009
boleh kah aku mengenalmu

Dikisahkan ada dua remaja usia belasan tahun sedang bertengkar sehingga mengakibatkan salah satu diantara mereka yang bernama Cinta merasa sakit hati dan mengurung diri. Salah satu temannya yang bernama Sayang merasakan ada rasa yang tidak nyaman sehingga timbul niatnya untuk meminta maaf.
Padahal kalau diusut kesalahannya tidak seberapa fatal cuma sebuah salah paham saja. Cinta memaksakan diri untuk menemui Pangeran dan kasih melarang dengan alasan tunggu karena si Pangeran sedang tidak ingin diganggu. Saat itulah cinta naik pitam dan marah serta menuduh kasih sengaja berbuat demikian karena cinta tahu kasih juga ada perhatian khusus pada si Pangeran. Tapi hal tersebut sengaja cinta tutup mata karena kasih adalah sahabat sejatinya.
Ditengah perdebatan itu datanglah sayang yang datang tergopoh-gopoh karena tidak ingin ada pertengkaran diantara mereka. Hal itu membuat Cinta marah dan langsung pergi. Kasih yang melihat sikap aneh cinta cuma diam saja sambil melihat bayang cinta yang jauh hingga hilang dari pandangan. Kasih lalu menjelaskan duduk permasalahannya sehingga terjadi pertikaian itu kepada sayang.
Tampak raut wajah sayang berfikir keras, tak lama dia tersenyum dan berkata lirih, " Tenang Kasih, aku ada akan membantumu asal kau mau menuruti semua nasehatku" Kata Sayang kepada Kasih. Akhirnya Kasih mengangguk tanda setuju. "Sekarang ikuti saran ku, pertama datanglah ke Cinta dan minta maaflah kepadanya. Kedua berikan senyum yang paling indah untuknya.
Dan yang ketiga, berdoalah untuknya dengan tulus dan ikhlas. Apapun yang terjadi terimalah dengan lapang dada. Spontan wajah Kasih tampak berbinar dan langsung bergegas meninggalkan Sayang. Melihat keadaan seperti Sayang cuma terseyum dan mendoakan semoga Sayang bisa sabar menghadapi Cinta.
Tak lama kemudian datanglah Kasih dengan seseorang yang amat dikenalnya yaitu Cinta, tampak juga si Pangeran disamping Cinta. Mereka terlihat amat bahagia. Kesalah pahaman sudah berakhir. kini cinta sudah mendapatkan kebahagiaan melalui perjuangan Kasih dalam melebur egonya. Semoga Cinta menjadi lebih dewasa, sabar dan bijak dalam berlaku. Apapun keadaannya sebuah rasa adalah semua datangnya dari hati, sebuah fitrah yang Allah ciptakan buat kita semua. Semoga kita semua termasuk menjadi hamba yang pandai bersyukur. Amiin.
Senin, 09 Maret 2009
KETIDAK JUJURAN AKAN MEMBUAT PETAKA

Ketakjujuran yang ada dalam rumah tangga, menjadi sangat sulit untuk bisa dipahami. Bagaimana tidak, jika diluar rumah sudah sangat sulit ditemukan yang dinamakan kejujuran itu. Dan ketidakjujuran diluar rumah kita bagai sebuah kebutuhan yang seakan harus ada, dan tak bisa kita hadapi serta hindari. Ini bisa dimaklumi, mengingat ketidakjujuran bagai sebuah kenyataan yang ada dalam masyarakat kita, dan kitapun tak mampu bisa berbuat apa dengan ketidakjujuran yang ada.
Inilah yang menjadi sulit dipahami jika dalam rumah tangga kita sudah menjadi bagiaan kebohongan-kebohongan yang ada dalam masyarakat kita. Hal ini dikarenakan, kebohongan dalam masyarakat sampai saat ini masih sulit untuk bisa dibongkar, akibat kultur yang ada terlalu kuat mencengkeram masyarakat kita. Nah..! kemudian kalau kita coba mencari benang merah dari kebohongan masyarakat kita, maka yang terjadi dalam masyarakat kita adalah korupsi seakan bagai bagian dari hidup mereka, kekerasan seakan bagai pilihan yang menjadi keharusan, dan kelambanan majunya tingkat ekonomi mereka tak lepas dari kebohongan-kebohongan yang ada pada mereka.
Semua seakan bisa eksis atau menjadi terhornat jika mereka bisa melakukan kebohongan demi kebohongan yang nyata. Semua seakan bisa menang dan mendapatkan tempat, jika bisa melakukan kebohongan dan kemunafikan. Maka yang banyak terjadi selanjutnya adalah mudahnya siapa saja mengumbar amarah, mudah siapa saja mengamuk serta merusak apa saja, dan juga tak kalah menariknya, adalah seakan siapa saja merasa puas jika belum ada perkelahian dan jotos-jotosan, seperti yang sering terjadi di gedung dewan terhormat atau musyawarah-musyawarah yang dilakukan partai-partai dalam masyarakat bangsa kita ini. Mereka seakan belum merasa puas kalau belum terjadi apa yang dinamakan kekerasaan itu.
Inilah kenyataan yang banyak terjadi dalam masyarakat bangsa yang tercinta ini. Mereka semua tak menyadari, kenapa mereka semua seakan begitu suka dengan jotos-jotosan, perkelahian, dan kekerasaan. Lha wong para pemimpinnya saja sudah mempunyai watak dan kepribadian seperti itu apalagi masyarakatnya, sehingga semua seakan diajarkan tentag perlunya sebuah kekerasan dan kekerasan. Opo...Tumon..! mbak ! kalau sudah begini kenyataannya.
Namun anehnya mereka tidak menyadari, kenapa mereka bisa terperangkap dengan kekerasan demi kekerasan (gontok-gontokan dan mengumbar amarah yang tiada batas etika). Mereka semua tidak menyedari kenapa mereka merasa terdorong untuk melakukan itu semua. Mereka semua seakan tidak pernah tahu, kenapa semua harus melakukan itu semua ? Mereka semua tidak pernah tahu dan menyadari bahwa sumber dari segala sumber yang telah menjadikan mereka menjadi seperti itu, tak lain dan tak bukan adalah hanyalah sebuah ketidakjujuran yang telah merasuki hati mereka semua.
Ketidakjujuran yang menyebabkan banyak dari mereka menjadi munafik dan sangat licik. Ketidakjujuran yang membuat mereka menjadi serakah dan sombong. Ketidakjujuran yang membuat mereka menjadi tak punya hati dan nurani. Tak mau tahu apakah mereka adalah orang bulukan, bawahan, pejabat, agamawan, kyai atau preman sekalipun. Semua seakan telah dihinggapi oleh nurani yang telah banyak dikotori dengan ketidakjujuran dan kebohongan. Namun aneh bin ajaib, semua tidak tahu pokok permasalahan yang telah menjadi sumber dari itu semua. Sumber masalah yang tak lain dan tak bukan adalah ketidakjujuran alias kebohongan yang nyata-nyata ada.
Itulah efek-efek yang telah banyak menyebabkan berbagai masalah yang tak lain dan tak bukan sebanarnya akan merugikan kita semua, semuanya termasuk diri dan keluarga kita.
RUMAH TANGGA DI DIRIKAN ATAS KEJUJURAN

Itulah efek-efek dari sebuah ketidakjujuran, keadaan bangsa saja menjadi carut marut, apalagi hanya sebuah rumah tangga, yang kecil dan lemah ini. Ketidakjujuran tentu saja akan membuat bangunan sebuah rumah tangga menjadi mudah keropos dan mudah goyah. Bagaimana tidak jika ketidakjujuran saja pasti akan menimbulkan kesalahpahaman dan kekurangpahaman terhadap sesuatu yang terjadi. Belum nantinya jika ketidakjujuran telah menjadi kemunafikan dan pengkianatan, tentu saja sulit rasanya rumah tangga yang sudah berdiri kokoh itu bisa tidak goyah karenanya. Dan tentu saja akan banyak efek yang akan ditimbulkannya akibatnya. Dan tentu saja efek tersebut akan tidak menguntungkan kelangsungan rumah tangga tersebut.
Namun harus diketahui pula bahwa untuk menegakkan ketidakjujuran itu, haruslah dengan hati yang dingin dan penuh kebijaksanaan. Menegakkan kejujuran itu haruslah diimbangi dengan kasih sayang yang sejati. Menegakkan kejujuran itu haruslah dilandasi dengan rasa kasih dan mengasihi. Menegakkan kejujuran itu haruslah tidak dengan amarah diri yang tiada arti. Menegakkan kejujuran itu haruslah tidak dengan tindakan yang asal menuduh tanpa rasa kasih. Karena menegakkan kejujuran itu harus dengan nurani dan diperlukan pemahaman yang tinggi.
Kita harus bisa memahami bahwa ketidakjujuran sudah berkeliaran kemanapun kita akan pergi. Untuk itu, bisa jadi, semua orang tak menyadari bahwa ketidakjujuran itu akan membawanya kepada hidup yang tiada arti.
Inilah yang kami kawatirkan terjadi pada suami anda. Suami anda serasa tidak menyadari bahwa kejujuran itu menjadi sangat berarti, ketika rumah tangga ini harus tegak dan berdiri. Mungkin bisa jadi, akibat diluar sudah banyak ketidakjujuran maka tanpa terasa, ketakjujuran itu terbawa juga sampai di rumah anda. Andapun menjadi kelimpungan dibuatnya. Namun bisa jadi, suami anda tidak merasakan ini semua. Bisa jadi suami anda hanya mereasakan masalah yang lainnya. Masalah yang sangat mungkin tidak berhubungan dengan sebuah kejujuran. Namun masalah yang tidak sadar di sebabkan oleh ketidakjujuran itu sendiri. Sehingga keadaan ini menjadikan sangat mudah memunculkan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang bisa memancing masalah tersendiri.
Kemudian kesalahpahaman demi kesalahpahaman, tidak menutup kemungkinan merembet kepada masalah-masalah lainnya. Entahlah, banyak hal yang bisa mengakibatkan masalah seakan bisa merembet kemana-mana, entah menjadi pemborosanlah, melakukan sesutu yang tak bergunalah, menjadi memunculkan kecurigaan-kecurigaan yang lainlah, dan masih banyak masalah-masalah lain yang bisa dimunculkan akibat kesalahpahaman-kesalahpahaman yang tak segera di selesaikan. Maka, kalau sudah begini adanya, tentu saja rumah tangga ini akan mudah mengalami goncangan dan pertentangan, padahal semua terjadi hanya gara-gara kesalahpahaman belaka. Kesalahpahaman-kesalahpahaman yang kalau dicari ujung pangkalnya, tak lain dan tak bukan hanyalah berawal dari ketidakjujuran yang telah terjadi selama ini.
Maka tidak ada cara lain yang bisa untuk menegakkan bangunan rumah tangga ini, keculi ada usaha menegakkan kembali sebuah ketidakjujuran yang telah terjadi. Menegakkan sebuah kejujuran itupun tidak bisa dilakukan dengan semena-mena dan penuh emosi. Sebab itu semua menjadi tidak akan membawa arti. Sebab tidak ada jalan lain pula untuk menegakkan kejujuran dalam sebuah rumah tangga, kecuali dengan sikap yang dingin, penuh pemahaman, penuh rasa kasih yang dalam, penuh kebijakan nurani, saling memberi dan bukan hanya untuk mencari menangnya sendiri dan benarnya sendiri.
DALAM RUMAH TANGGA KITA WAJUB MENJAGA HUBUNGAN

Memang kelihatanya sangatlah sepele dan simple, semua orang memandang sebelah mata masalah hubungan rumah tangga. Rumah tangga yang harmonis-damai adalah dambaan semua insan. Harta bukan jaminan dalam keharmonisan rumah tangga. Mobil dan rumah mewah bukan ukuran dalam keharmonisan rumah tangga. Hal-hal kecil ternyata bisa menjadi pemicu retaknya keutuhan Rumah Tangga. Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan agar perkawinan tetap harmonis ?
Menurut saya kiat-kiat dalam menjaga keharmonisan Rumah Tangga sangatlah sederhana cuma pengaplikasiannya harus membutuhkan tekad, niat yang sangat tinggi. Untuk menuju kedewasaan dalam berumah tangga memerlukan proses yang panjang.
Berikut ini adalah beberapa kiat untuk menuju rumah tangga yang harmonis dambaan kita semua :
1. Saling Percaya
Modal utama perkawinan adalah saling percaya. Jangan mudah percaya pada apa yang dikatakan orang lain tentang pasangan Anda. Karna berita dari pihak ketiga adalah banyak dikurang dan tambah sesuai versinya.
2. Saling Menghargai
Kalau bukan Anda yang menghargai pasangan Anda, siapa lagi ? Mulailah dari hal-hal yang paling kecil dan mungkin sepele. Apapun keinginan dan kebutuhan pasangan, andalah yang lebih mengetahui daripada orang lain. Hargailah pasangan Anda !
3. Saling Memaafkan
Bersedia untuk saling memaafkan sebelum sampai matahari terbenam ! Selesaikanlah semua perkara sebelum pergi tidur. Jangan membawa masalah rumah tangga keluar dari rumah, karna itu malah akan memperuncing masalah. “masalah bukanlah masalah jika kita bisa menyelesaikan masalah itu sendiri.
4. Bersikap Jujur dan Terbuka
Bagi suami-isteri tidak ada yang bersifat rahasia pribadi. Keterbukaan dan kejujuran dalam rumah tangga adalah mutlak. Tidak dapat di tawar-tawar lagi. Sepahit apapun kejujuran harus tetap di jaga.
5. Mau Berbagi Suka dan Duka
Sukacita suami adalah sukacita istri, sebaliknya dukacita isteri adalah dukacita suami pula. Jika masing-masing bisa saling merasakan rasa membagi dan melindungi akan tercipta dengan sendirinya.
6. Menerima Kekurangan Pasangan
Ingatlah bahwa pasangan Anda bukanlah malaikat. Maka terimalah segala kekurangan yang ada padanya. Jangan menuntut lebih dari itu ! Justru karena adanya perbedaan ini kita bisa saling melengkapi dan mengisi.
7. Selalu Berpikiran Positif
Ingatlah ini, banyak keluarga gagal dan hancur di tengah jalan karena selalu membangun pikiran negatif tentang pasangannya. Hilangkan pikiran-pikiran negatif mengenai pasangan. Lepaskan semua prasangka buruk.
8. Tetap Mesra
Berapapun usia perkawinan Anda, tidak jadi soal. Yang terpenting membangun kemesraan. Kemesraan bukan berarti bercumbu. Tetapi mesra dalam memperlakukan pasangan. Baik dalam perbuatan dan perkataan. Lembutnya kata-kata dan sikap bisa mengalahkan segalanya.
9. Ciptakan Kejutan bagi Pasangan
Kadang-kadang kejutan yang kecil saja sangat berarti bagi pasangan, misalnya hadiah yang menurut anda sebagai keinginan / kemauan pasangan. Hadiah tidak harus mahal dan terkesan memaksakan diri. Yang terpenting adalah diberikan pada waktu yang tepat dan penuh dengan kesungguh- sungguhan.
10. Jangan Sepelekan Janji
Janji adalah hutang. Bila sudah berjanji pada pasangan, usahakanlah untuk menepatinya. Biarpun untuk hal-hal yang sepele.
11. Jangan Suka Mengatur
Pasangan Anda bukanlah anak kecil, maka perlakukanlah dia sebagai partner bukan sebagai anak kecil. Jangan suka mendikte pasangan. Karna hal ini akan membuat hati pasangan tidak nyaman.
12. Ciptakan Bulan Madu Kedua
Sesekali ajaklah pasangan Anda untuk berduaan sendiri jauh dari anak-anak untuk menikmati saat-saat indah sekedar untuk refreshing.
13. Tawakal dan berdo’a
Bimbing keluarga untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Serahkan semua pada yang Maha Kuasa, Karena dialah Pemilik Segalanya. Kita hanya sekedar menjalani apa yang sudah menjadi kehendakNYA.
MENGAPAI KEJUJURAN DI DALAM MIMPI
Tutup mata hatimu dari kebencian, jangan selalu gelisah,
hiduplah dengan kesederhanaan, pengeluaran yang terbatas,
memberi yang banyak, selalu bernyanyi, selalu berdo’a,
lupakan masa lalu…selalu berpikir dengan perasaan,
beri perasaan hatimu dengan cinta seperti matahari yang akan terbit…
semua itu merupakan lingkaran emas dari kehidupan yang pasti akan berhasil.
Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka.
Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat.
Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan,
mereka menunjang dan membuka hatimu.
Tunjukkanlah kepada teman-temanmu
betapa kamu menyukai mereka
”Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu tahu kepada
siapa kamu dapat mempercayakan rahasia.”
Berilah kepada orang lebih dari yang mereka harapkan,
dan lakukan secara bijaksana.
Bila kamu tidak mendapatkan apa yang kau inginkan,
mungkin saja itu keberuntunganmu
Jika kamu ditanya sesuatu yang tak ingin kau jawab, senyumlah,
dan tanya: ”Mengapa kamu mau tahu?”
MAHLIGAI MELALUI PERNIKAHAN

Berbicara tentang
pernikahan banyak yang menyesal.
Menyesal kalau tahu begini nikmat
kenapatidak dari
dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu
tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah
yang lima harus dihapal
dan wajib lengkap kesemuanya.
Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria
yang
harus diperhatikan. Bagaimana
jika kita belum punya
biaya? Harus diyakini bahwa tiap orang itu sudah ada
rezekinya. Menikah itu menggabungkan dua rezeki,
rezeki
wanita dan laki-laki bertemu, masalahnya adalah
apakah rezeki itu diambil
dengan cara yang barokah
atau tidak. Allah tidak menciptakan manusia
dengan
rasa lapar tanpa diberi makanan. Allah menghidupkan
manusia untuk
beribadah yang tentu saja memerlukan
tenaga, mustahil
Allah tidak memberi rezeki kepada
kita.
Biaya pernikahan bukanlah perkara mahal, yang penting
ada. Maka kalau sudah darurat bahkan mengutang
untuk
menikah diperbolehkan daripada mendekati zina. Kalau
sudah menikah setelah ijab kabul, jangan jadi riya
dengan mengadakan resepsi yang mewah.
Hal ini tidak
akan menjadi barokah. Misalnya dalam mengundang,
hanya
menyertakan orang kaya saja, orang miskin tidak
diundang. Bahkan
Rasulullah melarang mengundang dengan
membeda-bedakan status. Dalam
mengadakan resepsi
jangan sampai mengharapkan balasan income yang
didapat.
Masalah mas kawin yang paling bagus adalah emas dan
uang mahar yang paling bagus adalah uang. Berilah
wanita sebanyak yang kita mampu, jangan hanya berkutat
dengan seperangkat alat
sholat saja. Rasulullah lebih
mengutamakan emas dan uang dan inilah hak
wanita. Awal
nikah jangan membayangkan punya rumah yang bagus.
Maka
perkataan terbaik suami kepada istrinya adalah
menasehati istri agar dekat dengan Allah. Jika
istri
dekat dengan Allah maka ia akan dijamin oleh Allah
mudah-mudahan
lewat kita.
Tiga rumus yang harus selalu diingat terdapat dalam
surah
Al-Asyr. Setiap bertambah hari, bertambah umur,
kita itu merugi kecuali tiga
golongan kelompok yang
beruntung. Golongan pertama adalah orang yang
selalu
berpikir keras bagaimana supaya keyakinan dia kepada
Allah
meningkat. Sebab semua kebahagiaan dan kemuliaan
itu berbanding lurus dengan
tingkat keyakinan kepada
Allah. Tidak ada orang ikhlas
kecuali yakinkepada
Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah.
Tidak
ada orng yang zuhud kepada dunia kecuali orang
yang tahu kekayaan Allah.
Tidak ada orang yang tawadhu
kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab
dan kenal dengan Allah
semua dipandang kecil. Setiap
hari dalam hidup kita seharusnya
dipikirkan bagaimana
kita dekat dengan Allah.
Kalau Allah sudah
mencintai mahluk segala urusan akan
beres. Salah satu bukti
seperseratus sifat pemurah
Allah yang disebarkan kepada seluruh mahlukNya
bisa
dilihat sikap seorang ibu yang melahirkan seorang anak
Kesakitan waktu melahirkan, hamil sembilan bulan tanpa
mengeluh yang belum tentu anak tersebut akan membalas
budinya. Tidak tidur ketika anaknya sakit, mengurus
anak
dari mulai TK sampai SMA. Memikirkan biaya
kuliah. Mulai nikah dibiayai
sampai punya anak bahkan
juga diterima tinggal di rumah sang ibu.
Tetapi
kerelaannya masih saja terpancar. Itulah
seperseratus
sifat Allah.
Selalukomitmen
mau kemana rumah tangga ini akan
dibawa.
Mungkin sang ayah atau ibu yang
meninggal
lebih dulu yang penting keluarga
ini akan kumpul di
surga. Apapun yang ada dirumah harus menjadi
jalan
mendekat kepada Allah. Beli barang apapun harus barang
yang disukai
Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah
yang disukai Allah. Boleh punya barang
yang bagus
tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal
atau murah,
bagus atau tidak tetapi apakah bisa
dipertanggungjawabkan disisi Allah atau
tidak.
Bahkan dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa
tahu
kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu.
Rumah kita harus Allah oriented.
Kaligrafi dengan
tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah
dan
islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil
sampai rumah. Tiap
punya uang beli buku, buat
perpustakaan di rumah untuk tamu yang
berkunjung
membaca dan menambah ilmu. Jangan memberi
hadiah
lebaran hanya makanan, coba memberi buku, kaset dan
bacaan lain
yang berguna.
Jangan rewel memikirkan
kebutuhan kita, itu semua
tidak akan kemana-mana.
Allah tahu kebutuhan kita
daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus
dengan
disain untuk lapar tidak mungkin tidak diberi makan.
Allah menyuruh
kita menutup aurat, tidak mungkin tidak
diberi pakaian. Apa yang kita
pikirkan Allah sudah
mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus
kita
pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah,
selanjutnya Allah yang
akan mengurusnya. Kita
cenderung untuk memikirkan yang tidak disuruh
oleh
Allah bukan yang disuruhNya.
Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan
beres. Barang siapa yang terus dekat dengan Allah,
akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin
dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan
barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya,
akan dicukupkan segala kebutuhannya.. Jadi bukan dunia
ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan
Allah-lah masalahnya.
Golongan kedua adalah rumah tangga yang akan rugi
adalah rumah tangga yang kurang amal. Jangan capai
memikirkan apa yang kita inginkan, tapi pikirkan apa
yang bisa kita lakukan. Pikiran kita harusnya hanya
memikirkan dua hal yakni bagaimana hati ini bisa
bersih, tulus, dan bening sehingga melakukan apapun
ikhlas dan yang kedua teruslah tingkatkan kekuatan
untuk terus berbuat. Pikiran itu bukan mengacu pada
mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang
tersebut, menolong, dan membahagiakan orang dengan
senyum. Sehingga dimanapun kita berada bagai pancaran
matahari yang menerangi yang gelap, menuai bibit,
menyemarakkan suasana. Sesudah itu serahkan kepada
Allah.. Setiap kita memungut sampah demi Allah itu akan
dibalas oleh Allah.
Rekan-rekan Sekalian,
Mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling
beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak
produktifitas kebaikannya. Uang yang paling barokah
adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya, bukan
senang melihat uang kita tercatat di deposito atau
tabungan. Uang sebaiknya ditaruh di BMT. Yang terjadi
adalah multiefek bagi pihak lain, hal ini menjadikan
uang kita barokah. Daripada uang kita disimpan di Bank
kemudian Banknya bangkrut, disimpan di kolong kasur
takut dirampok.
Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah
banyak asal diniatkan agar barokah demi Allah itu akan
beruntung. Beli tanah seluas-luasnya. Sebagian
diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Pahala akan
mengalir untuk kita sampai Yaumil Hisab. Makanya terus
cari uang bukan untuk memperkaya diri tapi
mendistribusikan untuk ummat. Sedekah itu tidak akan
mengurangi harta kita kecuali bertambah.. Jadi pikiran
kita bukan akan mendapat apa kita? tapi akan berbuat
apa kita?. Apakah hari ini saya sudah menolong orang,
sudahkah senyum, berapa orang yang saya sapa, berapa
orang yang saya bantu?
Makin banyak menuntut makin capai. Makin kuat kita
menuntut kalau Allah tidak mengijinkan maka tidak akan
terwujud. Kita minta dihormati, malah Allah akan
memperlihatkan kekurangan kita. Kita malah akan
dicaci, hasilnya sakit hati. Orang yang beruntung,
setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan.
Selagi hidup lakukanlah, sesudah mati kita tidak akan
bisa. Kalau sudah berbuat nanti Allah yang akan
memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung
adalah orang yang paling produktif kebaikannya.
Yang ketiga rumah tangga atau manusia yang beruntung
itu adalah pikirannya setiap hari memikirkan bagaimana
ia bisa menjadi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran
dan ia pecinta nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.
Setiap hari carilah input nasihat kemana-mana.
Kata-kata yang paling bagus yang kita katakan adalah
meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat kepada
anak, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Begitu
pula seorang atasan di kantor.
Kita harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi
dan koreksi dari pihak luar, kita tidak akan bisa
menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang
yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi
nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Jangan
pernah membantah, makin sibuk membela diri makin jelas
kelemahan kita. Alasan adalah kelemahan kita. Cara
menjawab kritikan adalah evaluasi dan perbaikan diri.
Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun.
Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan
hidup. Sayang hidup hanya sekali dan sebentar hanya
untuk menipu diri. Merasa keren di dunia tetapi hina
dihadapan Allah. Merasa pinter padahal bodoh dalam
pandangan Allah.
Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal diatas.
Setiap waktu berlalu tambahlah ilmu agar iman
meningkat, setiap waktu isi dengan menambah amal.
jangan sampai waktu berlalu dengan sia-sia.........
Alhamdulillah
" Dengan “MEMBERI” hati ini menjadi lapang dan hati juga menjadi bahagia.
So, mulailah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup ini…"
Wassalam,..
KEPERCAYAAN

Kepercayaan Di Dalam Pernikahan
Ya ALLAH, tunjukilah pada kami yang baik itu tampak baik dan berilah kami kemampuan untuk melaksanakannya. Dan tunjukilah pada kami yang buruk itu tampak buruk dan berilah kami kemampuan untuk menjauhkannya. Aamiin.
Pernikahan kami sudah di depan mata. Alhamdulillah persiapannya pun sudah hampir 50%. Kendala selama ini memang ada, tetapi masih dalam batas yang sangat normal. Sampai ujian yang lain pun datang, karena mungkin Allah ingin membimbing kami yang masih bodoh, egois, pemarah, sombong, dan masih banyak lagi sifat kami yang belum baik sebagai pemberi tauladan nantinya.
Suatu ketika, dari pihak laki-laki memberitahukan untuk memohon pengertian dari pihak perempuan untuk bisa merubah kesepakatan hari dan tanggal yang sudah kedua belah pihak sepakati dengan alasan ternyata menurut kepercayaan mereka tanggal itu tidaklah baik untuk dilangsungkannya pernikahan.
Kronologis penentuan tanggal pun sebenarnya pihak laki-laki menyerahkan kepada pihak perempuan, tetapi kemudian pihak laki-laki mengajukan suatu tanggal kepada pihak perempuan bahwa berdasarkan perhitungan dan konsultasi pihak laki-laki bahwa tanggal X adalah tanggal yang terbaik (masih pada bulan haji, bukan hari kelahiran calon suamiku, bukan hari wafatnya ayah calon suamiku, dan juga bukan hari wafatnya ibuku).
Hal ini cukup mendapatkan perhatian khusus dari keluargaku, bukan hal yang mudah karena kami mempunyai keyakinan semua hari dalam Islam itu baik. Menikah itu tidaklah sulit, jangan pula dipersulit. Kami menjadi bingung dan ada perasaan seperti kurang dihormati oleh pihak laki-laki.
Alhamdulillah, kami dari pihak perempuan akhirnya mengalah. Kami menikah (akad) seminggu sebelum resepsi, karena ternyata dari pihak katering tidak bisa merubah hari yang telah ditentukan. Kerepotan dan biaya yang kami keluarkan juga menjadi bertambah. Inilah pelajaran yang kuterima dari perjalananku yang ingin membina rumah tangga baru.
Aku di keluargaku sangat diterima baik atas apapun yang terjadi. Kami memang bukan orang kaya dan sudah tidak mempunyai Ibu lagi, tapi kami punya banyak saudara yang selalu mau mendengar kesulitan apalagi kebahagiaan dari saudara-saudaranya. Namun, calon suamiku mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda denganku.
Kepercayaan dia dengan keluarganya berbeda, dan dia cukup dikucilkan dari keluarganya sendiri. Calon suamiku mendapatkan perbedaan kasih sayang dan perhatian dari orangtua yang sangat jelas, baik sebelum apalagi sesudah peristiwa itu. Bahkan dari pihak laki-laki pun mengancam untuk tidak mau datang jika dia tidak berhasil merubah tanggal yang sudah ditentukan.
Allah… Semoga usahaku untuk bisa menjadi istri yang baik dan usaha calon suamiku untuk menjadi suami yang baik sudah mulai terproses dan selalu mendapatkan RidhaMU.
Terima kasih untuk seluruh perhatian, pengorbanan psikis dan materil, keikhlasan untuk mengalah, kesabaran, dan lain-lain yang telah seluruh saudaraku lakukan. Semoga Allah selalu menjaga semua yang sudah baik yang kita miliki dan membimbing untuk bisa lebih baik lagi dalam berbuat dan berkata-kata.
ISTRI YANG DI CARI

Kalau melihat populasi antara laki-laki dan wanita saat ini, 1 banding 4, untuk sementara kita akan mengatakan tidak terlalu sulit mencari seorang calon istri. Kalau mencari istri hanya kriterianya cukup dia berjenis kelamin wanita saja, tanpa embel-embel lain, rasanya mudah. Setidaknya logika kita akan mengatakan, jika tidak berhasil dengan calon pertama kan ada peluang kedua. Gagal lagi yang kedua, masih ada yang ketiga dan keempat. Belum lagi peluang orang lain yang tak diambil. Lalu kalau mencari istri, tapi ingin yang cantik dan mempesona, sulitkah?
Jika saat ini semakin banyak produk-produk kecantikan, semisal berbagai merk lotion, spa, facial, atau apalah yang lainnya, yang dapat memoles penampilan wanita menjadi lebih cantik dan anggun, kulit hitam menjadi putih, rambut keriting jadi lurus, badan gemuk jadi langsing, gigi tonggos jadi rapi, bibir dipoles jadi sensual, dan gaun-gaun yang modis lagi menggoda, seharusnya signifikan dengan semakin bertambahnya wanita-wanita cantik di negeri ini. Rasanya kita juga akan menjawab “MUDAH”. Sekarang kemungkinan besar tidak sulit juga memilih istri yang cantik dan mempesona secara lahiriah.
Memang memiliki istri cantik, apalagi kaya dan dari keturunan terhormat, merupakan idaman para lelaki. Kecantikan menjadi salah satu sumber kesenangan di hati. Dari mata turun ke hati, begitu kata pepatah. Seperti orang-orang kota yang sumpek melihat jejalan beton-beton raksasa kemudian menjatuhkan pandangannya pada keindahan alam pegunungan, di situ letak kesenangan dan hiburan bagi mereka. Begitu pula halnya istri yang memiliki paras cantik, ia menghadirkan kesenangan di hati suaminya. Lalu mungkin ada yang bertanya, sampai kapan kesenangan itu? Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Apalagi menjawab, apakah mereka yang mempesona dalam segi fisik pasti akan membawa kita dalam ketentraman dan kebahagiaan rumah tangga? Ah, tidak ada yang mau menjamin. Kalau hanya senang secara biologis kemungkinan iya, tapi kesenangan semacam ini sifatnya tidak lama dan tidak menjadi penentu ketentraman rumah tangga melainkan sedikit saja.
Memang bagi yang belum menikah, kecantikan kadang menjadi yang utama. Faktor fisik menjadi segala-galanya. Ketika usia bertambah tua, kecantikan juga akan semakin sirna. Padahal, menikah belum setahun, secara naluriah akan muncul perasaan begini, sang istri yang dulu primadona, sekarang tampak seperti biasa-biasa saja. Jika seorang suami tidak juga menemukan “kecantikan lain” pada istrinya, yang bukan berasal dari parasnya saja, bisa jadi kecantikan itu malah menjadi fitnah rumah tangga. Fitnah yang seperti apa? Dengarkanlah sabda Rasulullah, “Jangan menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukannya. Dan jangan menikahi wanita karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampaui batas. Tetapi, nikahilah wanita atas perkara agamanya. Sungguh, hamba sahaya wanita yang sebagian hidungnya terpotong lagi berkulit hitam tapi taat beragama adalah lebih baik.
KECANTIKAN YANG MEMBURUKAN

Seperti apakah kecantikan yang memburukan? Wallahu a’lam bishshawab. Mungkin saja mereka adalah yang merasa kecantikannya harus dihargai lebih. Mereka adalah yang merasa suaminya tak bisa menghargai kelebihannya. Mereka adalah yang kecantikannya digunakan untuk menyimpang, memuaskan nafsunya. Masih herankah kita, apa yang menjadi alasan artis-artis itu dengan mudahnya kawin cerai? Ya, salah satunya karena merasa memiliki kemampuan untuk memperoleh suami yang lebih baik melalui kecantikan dan kekayaannya. Itulah kecantikan yang memburukan. Atau kecantikan yang memburukan itu terjadi karena naluriah yang tak terbendung. Yaitu menonjol-nonjolkan kecantikannya di hadapan orang lain selain suaminya dengan maksud riya. Walau ia tak bermaksud menggoda lelaki lain, bukankah itu hal yang buruk?
Kecantikan atau harta belum cukup menjadi kriteria untuk kita menetapkan pendamping hidup. Ada yang perlu kita buka kembali. Secara arif, mengenai wawasan kita, mengenai harapan kebarokahan pernikahan, tentang cita-cita kesakinahan keluarga, tentang kebersamaan mengarungi hidup. Tentang dambaan keturunan-keturunan yang shaleh, tentang keadaan hidup setelah mati. Sabda Rasulullah berikut ini sudah sering kita dengar, kita ulang kembali, mudah-mudahan tidak sekedar lewat di telinga, tapi merupakan bekal yang membekas di hati, “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beruntung! Kalau yang menyampaikan kata “beruntung” itu adalah seorang pengusaha atau pedagang, maka makna beruntung itu tidak jauh dari yang namanya uang. Tapi kalau yang menyampaikan Rasulullah, katakan, keberuntungan seperti apakah itu? Bukankah keberuntungan itu mengenai kebahagiaan dunia berupa rumah tangga yang diberkahi Allah dan kebahagiaan akhirat berupa tabungan pahala dan kebaikan?
Coba sebut apa yang kita harapkan sebagai suami dari istri kita? Bukankah kita ingin ia menjadi penyemangat saat kita putus asa, penghibur saat kita sedih, penyejuk saat kekeringan, pendorong amal ibadah. Kemudian mau bersabar saat musibah, dan bersyukur dengan apa pun karunia yang diterima. Dan istri yang bisa memberikan itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan cantik tidaknya atau kaya tidaknya dia. Mereka adalah wanita-wanita yang baik agamanya. Mereka bertaqwa pada Allah dan patuh pada suaminya. Mereka yang tidak hanya melihat aktivitas melayani suami, mendidik anak, menjaga rumah, atau tugas-tugasnya yang lain sebagai urusan dunia semata. Tapi ada harapan yang lebih besar, yakni keridhaan Allah dan balasan SurgaNya di akhirat kelak.
Percayalah, tidak ada yang membuat seorang suami merasa tentram kecuali karena sikap baik seorang istri. Tidak ada sikap baik istri yang lebih jujur kecuali karena lahir dari ketulusan. Dan tidak ada ketulusan yang kokoh kecuali karena keikhlasan untuk bertaqwa kepada Allah. Inilah mengapa Rasulullah memerintahkan kita perihal menentukan calon istri berdasarkan kualitas agamanya. Karena agama adalah akhlak mulia, Addiinu Akhlakul Kariimah. Termasuk akhlak mulia seorang istri untuk bersedia melayani suaminya dengan tulus, ikhlas, dan sebab taqwanya kepada Allah SWT, ” Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa : 34).
Maka jatuhkan pandangan hanya pada faktor agama. Semata-mata agama. Kita juga tidak pernah menginginkan anak-anak yang alakadarnya atau bahkan yang jauh dari agama bukan? Ibunyalah sebagai seniman yang akan melukis kepribadian dan karakter anak-anak itu. Tentu yang kita inginkan, Ibu yang tak hanya mampu memberi cinta, namun juga pendidikan dan keteladanan menyangkut agama dan akhlak mereka.
agama
Baik Agamanya
Soal kriteria baiknya agama seorang wanita, ada dasar dan cabang-cabangnya. Seorang wanita melaksanakan shalat wajib, menjaga kemaluannya, menutup aurat, patuh pada suami, dan menjauhi kemaksiatan, itu lebih dari cukup untuk menjadi dasar bahwa ia baik agamanya. Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, telah dapat memelihara kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang disukainya.” (HR. Ahmad).
Seorang wanita, misalnya ahli Tahajjud, atau luas pemahaman agamanya, memiliki kepedulian tinggi terhadap dakwah, dermawan, misal juga suka menghafal Al-Qur’an, itu adalah cabang-cabang kriteria yang kita tentukan untuk memperoleh yang lebih baik dari yang sudah baik. Kalau kita mampu, mudah-mudahan kita beruntung bisa menikahi wanita yang memiliki kemuliaan agama dan akhlak seperti itu, aamiin…
Namun, kadang kebaikan terbentuk seiring berjalannya waktu. Boleh jadi kedewasaan berpikir dan semangat untuk meningkatkan kualitas agama baru terbentuk setelah menikah. Setelah hadirnya seorang suami yang menjadi imam, dan hadirnya anak-anak yang membutuhkan keteladanan. Mungkin saat ini, calon istri kita tidak terlalu kuat dalam menunaikan perkara-perkara amaliah kecuali hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, sopan dalam bergaul, dan menutup aurat. Subhanallah, sungguh jika selaras dengan keikhlasan di hatinya, yang seperti itu telah mulia di sisi Allah dan mulia di hadapan manusia, Insya Allah.
Mari saling berbagi nasehat, tetaplah kaki berpijak kepada sunnatullah. Berusaha dan berdo’a agar Allah menghadirkan seorang istri shalehah yang bertaqwa kepada Allah dan patuh pada suaminya. Tanyalah kepada siapa pun yang bisa ditanyai. Mintalah bantuan kepada siapa pun yang rela memberikan bantuan.
Berikhtiarlah di atas garis syari’at yang sudah ditetapkan. Bersabarlah untuk tidak mendekat pada proses-proses yang diharamkan. Hingga saatnya takdir benar-benar mendekatkan kita dengannya. Selanjutnya, dengan sangat percaya diri, kita akan menyambut datangnya pendamping terbaik, “khairunnisa”, siapakah khairunnisa itu?
“Khairunnisa” (Wanita Terbaik) adalah yang dapat menyenangkan hati suami apabila ia memandang, menaatinya apabila ia memerintah, dan tidak menentangnya dalam diri dan hartanya dengan sesuatu yang dibencinya.
Minggu, 08 Maret 2009
GALERI BONTANG

klu ngomongin lagu ini nich saya ngk bisa lagi di bilang mengandrungi, akan tetapi lagu milik afgan yang berjudul PADAMU AKU BERSUJUD. mungkin kita bisa mendengar bahwa lagu yang liriknya sedikit melankolis itu. saya ikut terbawa yang suasana sedih apa yang di artikan bersujud, bahwasanya manusia pasti akan bersujud kepada orang tua nya yang dia melahirkan kita.oke lah mungkin kita kalu membicaran terlalu dalam bisa kayak orang gila. biarkan mahkluk di alam semesta ini berjalan apa yang sudah di takdirkan sama yang di atas. heeeee....
