KETIDAK JUJURAN AKAN MEMBUAT PETAKA

Ketakjujuran yang ada dalam rumah tangga, menjadi sangat sulit untuk bisa dipahami. Bagaimana tidak, jika diluar rumah sudah sangat sulit ditemukan yang dinamakan kejujuran itu. Dan ketidakjujuran diluar rumah kita bagai sebuah kebutuhan yang seakan harus ada, dan tak bisa kita hadapi serta hindari. Ini bisa dimaklumi, mengingat ketidakjujuran bagai sebuah kenyataan yang ada dalam masyarakat kita, dan kitapun tak mampu bisa berbuat apa dengan ketidakjujuran yang ada.
Inilah yang menjadi sulit dipahami jika dalam rumah tangga kita sudah menjadi bagiaan kebohongan-kebohongan yang ada dalam masyarakat kita. Hal ini dikarenakan, kebohongan dalam masyarakat sampai saat ini masih sulit untuk bisa dibongkar, akibat kultur yang ada terlalu kuat mencengkeram masyarakat kita. Nah..! kemudian kalau kita coba mencari benang merah dari kebohongan masyarakat kita, maka yang terjadi dalam masyarakat kita adalah korupsi seakan bagai bagian dari hidup mereka, kekerasan seakan bagai pilihan yang menjadi keharusan, dan kelambanan majunya tingkat ekonomi mereka tak lepas dari kebohongan-kebohongan yang ada pada mereka.
Semua seakan bisa eksis atau menjadi terhornat jika mereka bisa melakukan kebohongan demi kebohongan yang nyata. Semua seakan bisa menang dan mendapatkan tempat, jika bisa melakukan kebohongan dan kemunafikan. Maka yang banyak terjadi selanjutnya adalah mudahnya siapa saja mengumbar amarah, mudah siapa saja mengamuk serta merusak apa saja, dan juga tak kalah menariknya, adalah seakan siapa saja merasa puas jika belum ada perkelahian dan jotos-jotosan, seperti yang sering terjadi di gedung dewan terhormat atau musyawarah-musyawarah yang dilakukan partai-partai dalam masyarakat bangsa kita ini. Mereka seakan belum merasa puas kalau belum terjadi apa yang dinamakan kekerasaan itu.
Inilah kenyataan yang banyak terjadi dalam masyarakat bangsa yang tercinta ini. Mereka semua tak menyadari, kenapa mereka semua seakan begitu suka dengan jotos-jotosan, perkelahian, dan kekerasaan. Lha wong para pemimpinnya saja sudah mempunyai watak dan kepribadian seperti itu apalagi masyarakatnya, sehingga semua seakan diajarkan tentag perlunya sebuah kekerasan dan kekerasan. Opo...Tumon..! mbak ! kalau sudah begini kenyataannya.
Namun anehnya mereka tidak menyadari, kenapa mereka bisa terperangkap dengan kekerasan demi kekerasan (gontok-gontokan dan mengumbar amarah yang tiada batas etika). Mereka semua tidak menyedari kenapa mereka merasa terdorong untuk melakukan itu semua. Mereka semua seakan tidak pernah tahu, kenapa semua harus melakukan itu semua ? Mereka semua tidak pernah tahu dan menyadari bahwa sumber dari segala sumber yang telah menjadikan mereka menjadi seperti itu, tak lain dan tak bukan adalah hanyalah sebuah ketidakjujuran yang telah merasuki hati mereka semua.
Ketidakjujuran yang menyebabkan banyak dari mereka menjadi munafik dan sangat licik. Ketidakjujuran yang membuat mereka menjadi serakah dan sombong. Ketidakjujuran yang membuat mereka menjadi tak punya hati dan nurani. Tak mau tahu apakah mereka adalah orang bulukan, bawahan, pejabat, agamawan, kyai atau preman sekalipun. Semua seakan telah dihinggapi oleh nurani yang telah banyak dikotori dengan ketidakjujuran dan kebohongan. Namun aneh bin ajaib, semua tidak tahu pokok permasalahan yang telah menjadi sumber dari itu semua. Sumber masalah yang tak lain dan tak bukan adalah ketidakjujuran alias kebohongan yang nyata-nyata ada.
Itulah efek-efek yang telah banyak menyebabkan berbagai masalah yang tak lain dan tak bukan sebanarnya akan merugikan kita semua, semuanya termasuk diri dan keluarga kita.






