saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan
Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.
Jumat, 20 Maret 2009
Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama
Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi.
Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang disimpan. Dan kerena itulah, percintaan selalu memiliki gairah penaklukan, ketika belum ada yang dikuasakan. Tampaknya, pernikahan harus juga dibayangkan seperti percintaan, sebelum ijab, ketika aku dan engkau tak harus menjadi kita. Hanya dengan begitu, pernikahan, rumah tangga, tak lagi diisi rintihan.
